Minggu, 05 November 2017

BERGURU DARI SIKECIL

Dia baru 5,5y oktober kemarin. Namun saya menyaksikan fitrah keimanan yg bertumbuh pada ananda. Belakangan ia sering mengajak saya bercerita tentang Allah yang Maha Baik.
Yang memberi ia teman yang banyak, rezeki tuk ayahnya sehingga bisa membelikannya buku gambar dan crayon.
Tentang bahwa ia Allah beri makan yang enak. Alhamdulillah katanya.
Adzka-ku. Mendengar kalimat demi kalimat yang ananda keluarkan seolah ia sedang mengingatkan saya, betapa banyak karunia Allah yang harus saya syukuri. Termasuk kehadiran ananda dalam hidup saya dan suami. Bukan sekali dua kali saya mendapat pelajaran dari polah anak2. Bahkan sering kali. Banyak bersyukur dengan ini.

Fatih, sang adik pun sering menginterupsi bundanya. Jika ada kelakuan bundanya yang ga pas. 😊
Kompleinnya luar biasa. Biasanya menyangkut kebiasaan yang sudah kami semua srpakati. Misal tentang sampah. Yang sudah keluarga sepakati tuk dibuang ditempatnya. Lalu terkadang ayah atau bundanya lupa dan spontan asal naruh sampahnya. Langsung ditilang adek Fatih. πŸ˜€
Daan  asih banyak hal yang mana anak-anak ini justru menjadi pengingat kami orang tuanya.
Sumber : album foto keluarga


Saya jadi ingat tulisan ustadz Hary Santosa dalam buku parenting fenomenalnya, Fitrah Based Education. Tentang Golden Age dan Fitrah keimanan, karena secara fitrah perkembangan pada saat usia 0 -7, anak berada masa dimana imajinasi dan abstraksi berada puncaknya, alam bawah safar masih terbuka lebar, sehingga imaji-imaji tentang Allah, tentang Rasulullah, tentang kebajikan, tentang ciptaanNya akan mudah dibangkitkan pada usia ini.

Ia sesuai kutipan di atas ternyata ananda sedang berada pada rentang usia dimana fitrah keimanan yg sedang bertumbuh dengan pesatnya. Moment ini bukan hanya menjadi self reminding tuk saya namun juga pesan atau kode tuk saya dan suami sebagai parent agar bisa memaksimalkannya sehingga fitrah keimanan tidak justru luntur dari jiwa ananda. Proses penanaman nilai-nilai Tauhid dan kebajikan harus terus ditanamkan agar melekat dan terpatri kuat di jiwanya.

Saya perhatikan empatinya juga bertumbuh. Kemarin malam. Saat Adzka mengajak ayahnya ke Toko Buku untuk mencari buku gambar sang adik juga minta ikut. Saya perhatikan ia begitu sabar dan telaten memakaikan sepatu adiknya. Menyaksikan ini saya hanya melihat dan membiarkan Adzka melakukannya sendiri. Bukan tega ya...πŸ˜€ tapi saya ingin fitrah berkasih sayang apalagi pada adiknya terus bertumbuh memenuhi jiwanya.
Lagi lagi ini adalah pelajaran tuk saya. Jleb banget rasanya. Di usia yg sudah begitu tua namun kematangan berfikir apalagi empati begitu kurang. Benar-benar apa yg Adzka lakukan menjadi sebuah jalan Allah tuk mengingatkan saya. Bagaimana harusnya berperilaku.

Tak jarang juga sulungku itu mengingatkan saya secara langsung. Kalimat-kalimat sakti yg spontan keluar dari bibir mungil itu.
Pernah suatu kali ia menasehati saya kalau menurut saya sih. Tapi dengan gaya khas ala anak usia segitu.

"Bunda..bunda harus sabar ajari abang. Abang kan masih kecil"

Saat itu ceitanya kami belajar melipat kertas ala origami. Karena kurang sabar saya sering keluarin kata-kata

"Cepat abang"

Karena merasa kurang bisa mengimbangi kecepatan tangan bundanya melipat. Anaknya kewalahan. Langsung interupsi. 😁😁😁

Di waktu yang lain Adzka juga pernah mengkritik saya tentang menu makanan yang terkadang kurang cocok di lidahnya.
Ia..mulut anak kecil ga akan bisa bohong. Ia akan berkata tidak enak tuk sesuatu yg benar2 ga sesuai dg seleranya. Γ™Atau rasanya aneh. Tuk yang ini bunda sudah terbiasa dan ga kaget. 😁

Daan pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa  sejatinya  Allah mengingatkan kita lewat apa saja. Ga selalunya lewat nasehat atau ceramah ustadz/ah atau kejadian-kejadian yang kita alami dalam keseharian kita. Bahkan anak kecil adalah guru juga pengingat kita.

Say kutip tulisan DR. Muhammad Nur Abdul Hafidz Suwaid dalam bukunya bertajuk Prophetic Parenting (Cara Nabi Mendidik Anak) sebagai penutup tulisan saya ini.
Anak adalah perhiasan dunia. Anak adalah karunia Allah kepada manusia. Hati akan gembira di kala memandang mereka, mata akan terasa sejuk sewaktu melihat mereka dan jiwa akan tentram ketika berbicara dengan mereka. Mereka adalah bunga kehidupan dunia.

Maka dari itu bahkan kritik dari ananda tidak dirasa sebagai sesuatu yang membuat saya marah dan tidak bisa terima. Pasalnya dia adalah belahan jiwa dan penyejuk mata...😊😊😊

Sumber bacaan

Fitrah Based Efucation, Harry Santosa, version 3.0, Yayasan Cahaya Mutiara Timur, 2017

Menyayangi Anak Sepenuh Hati, Ida Nur Laila, Era Adicitra Intermedia, 2016

Prophetic Parenting Cara Nabi Mendidik Anak, DR. Muhammad Nur Abdul Hagidz Suwaid, Pro U Media,  2009









3 komentar:

  1. Abang adzka pinter...salam ya Bun untuk Abang adzka😊😊😊

    BalasHapus
  2. Saya suka baca tulisan mengenai praktek FBE, lebih real gtu ketimbang baca buku nya aja

    BalasHapus
  3. Masyallah.
    cerdasnya si abang.
    barakallah abang adzkaa..

    BalasHapus